Indo Nude

Eksanti, The Other Manager – 1

ami ayukawa stripped (10).pamer daleman_WM

ami exposed nude girl (6).cerita sex ngentot sama pak de_WM

Ami Kikuchi (2).penis masuk vagina gambar porno_WM

Ami Tokito (8).gambar ngentot anak sekolahan_WM

Amoy Cantik Bugil Pamer Toket (1).Cerita Mesum Hot_WM

Cerita Sex Bergambar dan Terbaik di Kelasnya,
CerSexMek – Cerita Sex Memek | Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum, Terbaru dan Terbaik.


( Selalu Menyajikan Cerita Sex Terbaru dan Foto Memek Terbaik )

Cerita Manajer itu kepadaku:

Sore hari di bulan Februari tahun 1997, aku masih ingat betul kejadian itu. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, sementara aku masih duduk di ruang kerjaku merenungkan situasi ekonomi yang tidak juga kunjung membaik. Aku benar-benar pusing memikirkan hal itu, dan aku merasa butuh penyegaran bagi otakku yang mulai suntuk. Lalu aku mulai menyalakan modem dan men-dial website favoritku. Ketika aku sedang iseng-iseng melakukan surfing di web site itu, tiba-tiba temanku si manajer masuk ke dalam kamarku.

“Hei, lagi ngapain lu..”, ia bertanya singkat.
“Biasa.., lagi iseng surfing di internet”, jawabku tanpa melirik ke arahnya.
Aku dan dia memang terbiasa untuk menyapa dengan pangilan elu dan gua, kecuali untuk saat-saat yang sangat formal. Kami memang telah saling mengenal dekat cukup lama, dan kami pun dulu belajar di peguruan tinggi yang sama. Kedekatanku dengan dia membuat kami tidak perlu saling merasa sungkan untuk menceritakan hal-hal yang sangat pribadi, termasuk pengalaman kami masing-masing dengan teman-teman wanita. Baik pengalaman waktu kuliah dulu, juga pengalaman kami sekarang saat kami sama-sama telah menjadi manusia dewasa. Hanya saja, sejauh ini aku sama sekali tidak pernah menceritakan affairku dengan Eksanti demikian pula dengan si manajer itu, hingga kejadian sore itu.

Lalu aku melanjutkan lagi.. “..ehh.., elu tahu nggak aku menemukan fotonya Eksanti di internet”.
“Ahh.. masa, coba lihat”, ia bertanya dengan nada penasaran, sambil berjalan ke arah belakang tempat dudukku. Ia menarik kursi, dan duduk di sebelahku. Lalu aku mencari file yang aku maksud, dan segera membukanya.
“Naa.. ini ‘kan Eksanti”, aku menunjuk gambar seorang wanita yang sedang berpose menantang di layar komputerku. Aku sebenarnya tahu persis bahwa gambar itu bukanlah Eksanti, walau wajah wanita itu memang benar-benar mirip dengan Eksanti.
“Acchh.. ngawur kamu”, ia melontarkan pendapatnya, “..wajahnya memang mirip, tapi payudaranya terlalu besar.. achh”.
“Emang, elu tahu ukuran Santi?”, aku bertanya dengan sedikit nada heran bercampur sedikit rasa cemburu.
“Hee.. he.., tanya sama gua dong. Gua kan pernah begini sama dia”, katanya dengan nada bangga sambil meremaskan kedua tanggannya di dadaku.
“Achh.. lu, ngarang ‘kalii..!!”, aku mengomentari pernyataannya dengan segala usaha untuk menyembunyikan rasa cemburuku.
“Lu.., nggak percaya.., hee.. hee.. gua kan udah lebih lama ngenal dia daripada elu, jadi gua tahu persis segala-galanya tentang dia”, ia berujar lagi.
“Emang gimana sih.. si Eksanti itu”, aku bertanya lagi dengan penuh selidik.
“Gua tahu, tapi gua nggak mau cerita..”, ia menolak pertanyaanku.
“Acchh.. Lu bohong aja..!”, aku memancing lagi.
“Ecchh.. bener, gua tahu persis!!”, nadanya sedikit meninggi. Naa.. kena deh pancinganku. Lalu ia melanjutkan lagi, “..iya deh gua ceritaain, tapi elu jangan cerita-cerita ke yang lain yaa..”.
“Iya deh, kayak elu nggak tahu gua aja”, aku semakin berusaha memancing pengetahuannya tentang Eksanti.

Lalu si manajer tadi bercerita panjang lebar mengenai latar belakang si Eksanti. Ia memang tahu persis latar belakang keluarganya, pacar-pacarnya, affair-affairnya, bahkan sampai ke masalah-masalah sosial ekonomi-nya. Sebenarnya aku kagum pada pengetahuan dan kedekatannya dengan Eksanti, tetapi aku tetap berusaha menyembunyikan perasaanku. Aku jadi teringat bahwa ceritanya memang persis sama dengan yang Eksanti pernah ceritakan kepadaku, sehingga tidak ada alasan bagiku untuk tidak mempercayai ‘pengetahuan’ si manajer ini.

Ketika ia mulai mengakhiri ceritanya, aku bertanya lagi kepada si manajer itu “..terus emang elu ada affair juga sama Eksanti?”
“Yaa.. gimana yaa.., abis gua juga lagi suntuk di rumah sih. Terus Santi juga lagi ada problem, gua kebetulan mau ndengerin problemnya. Terus dia mau ngedengerin problem gua.. Yaa.. saling curhat gitulah. Emang yang begituan begituan namanya affair..?”, aku tahu, ia masih berusaha menyembunyikan cerita yang sebenarnya kepadaku.
“Lho.., tadi elu bilang tahu persis ukuran Santi”, aku mengingatkan.
“Iyaa.. sih, gua emang pernah sama dia, tapi..”, ia berhenti sejenak nampak ragu-ragu melanjutkan ceritanya.
“Tapi gimana..?”, aku semakin penasaran.
“Ceritanya begini.., elu tahu ‘kan kita pernah punya bisnis kapal yang di Surabaya itu”, akhirnya dia tidak tahan juga untuk tidak bercerita.
“Iyaa.. terus apa hubungannya”, aku memancing lagi.
“Kan, Eksanti banyak mbantuin gua di bisnis itu. Jadi gua sama dia jadi makin deket. Gua jadi sering jalan bareng sama dia.”, ia melanjutkan.
“Terus..?”, aku mulai serius mendengarkan.
“Terus kejadiannya kira-kira sebulan yang lalu..”, ia mulai berterus terang, menceritakan kejadiannya secara rinci..

*****

Hari Jum’at sore selepas Maghrib, udara di kota Surabaya yang biasanya sangat terik, berubah menjadi dingin sekali akibat hujan yang turun seharian. Kami baru saja keluar dari sebuah kantor BUMN di Surabaya, setelah seharian kami melakukan rapat untuk mengurus ijin pelayaran kapal perusahaan kita. Sengaja hari itu, diam-diam tanpa memberitahumu, aku mengajak Eksanti ke kota Surabaya untuk membantuku dalam mengurus perijinan ini. Seperti biasa, menurutku birokrat akan lebih lunak bila dihadapi oleh seorang wanita, apalagi yang pintar, cantik dan sexy seperti dia.

Tadinya kami memang berencana untuk langsung pulang ke Jakarta menggunakan pesawat yang terakhir, tetapi karena waktu yang tidak memungkinkan lagi untuk memperoleh tiket pulang ke Jakarta, maka aku lalu berfikir lain.
“Wah, kayaknya kita harus nginep di Surabaya nih, Santi. Toh besok kita juga libur, kamu nggak keberatan ‘kan?”, ujarku kepadanya.
Terlihat ia berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Nggak apa-apa sih, Mas, tapi kita mau nginep di mana?”
Aku lantas memberi usul yang sangat rasional, “Kita cari hotel terdekat dengan airport saja deh. Nanti saya akan booking dua kamar yang sebelahan yaa.., jadi biar kamu nggak takut”.
“Oke.., itu ide yang baik”, Eksanti berkata singkat menyetujui usulku.

Lalu kami berjalan ke arah taksi yang kebetulan banyak yang sedang menunggu di depan kantor itu. Sebuah taksi berwarna biru segera menghampiri kami yang sedang berdiri di tangga lobby kantor itu.
“Ke hotel Holiday Inn Pak..!”, aku berkata pada sopir taksi begitu kami berdua duduk bersebelahan di kursi belakang. Rasa penat yang ada dalam diriku membuatku melamun. Aku mengingat-ingat pertemuan dengan para birokrat yang baru saja kami lakukan. Tiba-tiba aku tersenyum sendiri ketika aku mengingat, betapa pada saat meeting tadi darahku sempat mengalir deras ketika aku melirik ke arah kaki indahnya yang sedikit tersingkap. Hal itu sempat mengganggu konsentrasiku, sehingga aku agak tergagap-gagap ketika tiba-tiba si birokrat itu memberikan pertanyaan padaku.

Lamunanku tiba-tiba buyar ketika Eksanti berkata, “Kok, Mas senyum-senyum sendiri, ada apa sih..?”.
“Nggak.., nggak apa-apa”, aku menjawab dengan sedikit terbata-bata, sambil memandang lurus ke arah matanya dengan tajam. Eksanti lantas tersipu-sipu, dan mataku pun beralih kembali ke arah kaki indahnya. Dadaku kembali berdegup kencang ketika aku kembali menyaksikan pemandangan indah itu. Rasa penatku seakan langsung menghilang lenyap. Celanaku terasa sesak ketika kejantananku tidak bisa diajak kompromi lagi. Akupun lalu membayangkan hal-hal indah yang selama ini cuma ada di angan-anganku. Akankah bayanganku itu bisa menjadi kenyataan?

Suasana perjalanan dari kantor itu ke arah Airport Juanda benar-benar hening. Aku kembali pada lamunanku, sementara aku melihat Eksanti berusaha untuk memejamkan matanya. Ia nampak sangat letih. Kasihan juga gadis ini, aku sangat beruntung tadi sangat dibantu oleh kehadirannya. Aku berjanji akan memberinya hadiah bila sampai di Jakarta nanti, pikirku dalam hati.

Tidak terasa kami telah sampai di hotel, dan setelah aku membereskan administrasinya, kami segera menuju ke lantai 7 dimana kamar kam

i berada. Ketika di dalam lift yang menuju lantai itu, kami hanya berdua. Mata kami kembali beradu pandang, aku merasakan adanya desiran hangat dalam diriku, terlebih ketika harum bau parfum Eksanti begitu terasa di dalam lift yang sempit itu. Bayang-bayang tentang keindahan itu kembali menggaguku, dan “tingg..” tiba-tiba buyar begitu lift berhenti di lantai 7. Kami lalu menuju kamar masing-masing yang saling berhadapan pintunya, aku ingat betul nomornya 712 dan 713. Sesaat kami sempat beradu pandang kembali pada waktu membuka kunci pintu kamar. Darahku lagi-lagi berdesir deras, dan Eksanti pun tersipu malu..

******

Pukul 20.00 malam, aku selesai mandi, bayang-bayang Eksanti terus menggodaku. Dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di bawah perutku, aku merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Bayang-bayang itu semakin menggelorakan birahiku, dan tanpa terasa kejantananku pun menegak ketas membayangkan hal-hal indah yang belum pernah aku alami bersamanya.

“Achh.. seandainya..”, aku berkata dalam hati sambil mengusap-usap handuk yang menyembul ke atas menutupi kejantananku. Lalu, tiba-tiba aku teringat bahwa notulen rapat tadi siang masih ia bawa. Aku segera menyambar gagang telephone di sebelah tempat tidurku, lalu aku memutar nomor telephone di kamarnya. Aku meminta ijin pada Eksanti untuk mengambil notulen itu di kamarnya dan ia pun mengiyakan. Karena aku berpikir nanti terburu malam, maka aku hanya mengenakan kaos dan celana tidur saja, ketika aku beranjak ke kamarnya. Aku tidak pernah memakai celana dalam bila hendak tidur.

Aku mengetok pintu kamarnya, dan Eksanti segera membukanya. Ia sudah selesai mandi, rambutnya masih basah oleh air keraMas, dan saat itu Eksanti hanya mengenakan daster putih tipis yang menerawang. Sesaat jantungku berdegup keras ketika aku memperhatikan bayang-bayang tubuh indahnya yang nampak jelas karena terpaan sinar dari arah belakang kamarnya.
“Masuk dulu deh Mas, nanti saya ambilin!”, begitu sapa Eksanti. Aku mengikuti langkahnya dari belakang, dan aku baru sadar bahwa saat itu Eksanti belum mengenakan celana dalam dan bra. Kejantananku kembali mengeras menyembul dari balik celana tidurku menyaksikan pemandangan indah itu. Aku semakin tidak tahan.

Eksanti berjalan menuju ke meja, tempat ia menyimpan tas berisi berkas-berkas kerja. Aku berdiri tepat di belakangnya. Bau harum tubuh dan rambutnya yang wangi semakin mengelorakan jiwaku. Tiba-tiba Eksanti berbalik badan dan berkata, “..yang ini yaa.., Mas!”, sambil memegang berkas notulen yang aku maksud. Aku terkejut, karena rambutnya yang basah mendadak tersibak mengenai mukaku. Tubuh kami secara tidak sengaja hampir berhimpitan.

Aku tahu bahwa Eksanti juga terkejut karena secara tidak sengaja kulit tangannya sempat menyentuh celana tidurku yang menyembul keras sekali.
“Yaa.. benar, yang itu”, aku terbata menjawab sambil mencoba menerima berkas kertas-kertas notulen itu. Karena kami sama-sama gugup, maka kertas-kertas itu terjatuh dari tangannya. Secara refleks aku mencoba untuk menangkapnya, namun justru pergelangan tangannya yang terpegang oleh tanganku. Kertas-kertas itu jatuh bertebaran di lantai, namun kami tidak menghiraukannya lagi.

Gejolak birahi telah sedemikian menggelora dalam diriku. Dengan sisa keberanian yang ada aku meremas jemari tangannya sambil sedikit menarik tubuhnya ke arahku.
“Mas.., jangan Mas”, Eksanti mendesah lirih, namun ia memejamkan matanya seolah ia menikmati belaian lembut tanganku di jari-jarinya. Lalu dengan sedikit nekad, aku mencoba mendekatkan bibirku ke bibirnya yang tipis itu.

“Mas.., jangan..”, ia masih berusaha menolakku dengan lemah, tetapi tangannya sama sekali tidak berusaha untuk mendorong tubuhku yang menghimpitnya. Ketika sekali lagi ia membuka mulutnya untuk berkata “Jangaann..”, maka aku tidak mennyia-nyiakan kesempatan untuk mencium dan melumati bibir indah itu. Aku menggigit dengan lembut bibirnya. Serangan pertamaku berhasil, ia sama sekali tidak menolak bahkan tangannya memegang pipiku seolah berusaha agar aku lebih leluasa menciuminya.

Tanganku memeluknya dengan erat dan jemariku telah berada disekitar buah pantatnya seakan berusaha untuk menekan badannya lebih rapat ke arahku. Posisi ini membuat Eksanti bisa dengan jelas merasakan tonjolan kejantananku di balik celana tidurku.
“Hhhmm..”, Eksanti mendesah pelan ketika aku menggesek-gesekan kejantananku di sekitar daerah sensitifnya. Kini bibirku telah turun kearah lehernya yang putih. Lidahku menyapu-nyapu di belakang telinga dan membasahi rambut-rambut halus di atas tengkuk lehernya.

Tangan Eksanti kini telah turun dari leherku menuju ke arah buah pantatku, berusaha untuk menekankan kejantananku ke arah kewanitaannya. Lalu tangannya menyusup dari arah karet atas celana tidurku, dan jemarinya meraba-raba buah pantatku. Ia nampak sedikit kaget ketika ia tahu aku tidak mengenakan apa-apa lagi di balik celana tidurku. Jemari itu terus bergerak ke depan berusaha untuk menggenggam kejantananku.

“Ssshh..”, aku mendesis nikmat, saat jemari tangannya bergerak lembut melingkari kejantananku yang telah mengeras. Tanganku sekarang telah meraba-raba puting payudara kirinya, sementara mulutku menciumi putingnya yang kanan. Daster putih yang ia kenakan membasah di sekitar putingnya karena air liurku, sehingga putingnya yang kecil, tegang, merah kecoklatan itu semakin tampak jelas mencuat ke atas. Bergantian aku meraba dan mencium puting kiri kanannya, dan Eksanti mulai mendesis-desis nikmat, “Acchh.., Mas, enak sekalii..”.

Lalu dengan lembut aku membibingnya ke arah ranjang tidur. Eksanti terduduk di atasnya dan ia merebahkan sebagian badannya di atas tempat tidur. Sementara kakinya yang indah masih terjulai ke atas karpet. Aku menyingkapkan daster yang ia kenakan, dan aku menyaksikan indahnya bulu-bulu hitam lembut yang menutupi kewanitaannya dengan rapi. Sungguh sangat pandai ia merawat dirinya, pikirku dalam hati. Aku berlutut antara kedua paha indahnya yang berjuntai dan aku mengarahkan bibirku ke arah bulu-bulu lembut itu. Lalu aku mulai mengecup dan mengembus-hembuskan nafas hangat yang membuatnya berteriak kecil, “Aw..!” tanda kaget sekaligus senang.

“Aucchh..”, Eksanti mendesis lagi ketika jilatan-jilatan lidahku mulai menyentuh kulit pahanya. Tangannya meremas-remas rambut kepalaku seolah-olah mengarahkan bibirku tepat ke atas kewanitaannya. Bibirku kini telah menempel di bibir kewanitaannya, lidahku menjilati dinding luar kewanitaannya dan Eksanti berteriak pelan menyebut-nyebut namaku. Apalagi kemudian aku mengeluarkan lidahku, dan dengan itu aku mulai menjilat perlahan, menyelipkannya di antara dua bibir kewanitaannya yang bersih dan wangi itu.

ke bag 2

Kirani

Ameesha Patel (7)_WM

Ameesha Patel (19).KARA_WM

Ameesha Patel (30).Jimin_WM

Ameesha Patel (41).IU_WM

Ameri ichinose (6)_WM

Cerita Sex : Kirani – Cerita Sex Memek, Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum Terbaru 2015


( Cerita Sex : Bergambar Full HD )

Kenalkan, panggil saja aku Raymond (Ray). Saat ini berusia 22 tahun, dan kuliah di sebuah universitas terkemuka di Surabaya, dan belum juga lulus. Nah, begini. Aku sama sekali tidak merasa diriku ganteng, pandai, ataupun alim. Aku mantan pecandu (hampir semua sudah aku coba) yang berhasil rehab (yang ternyata banyak sekali gunanya). Hampir setiap hari aku melakukan hubungan seksual dalam bentuk bagaimanapun, dan maaf-maaf saja, aku tidak pernah melakukannya dengan pereks ataupun pelacur, tapi perawan kampus maupun anak SMU, dan terkadang tangan kiriku. Ah.. itulah sebabnya. Aku merasa beruntung dilahirkan dari sebuah keluarga menengah, yang sanggup membelikanku sebuah city-z dan m35 untuk bekal kuliah. Hanya modal itu? Tidak dong. Modal utamaku = Mulut dan Otak! Mau tahu caranya? Coba kuulas pengalamanku baru-baru ini.

Cerita Sex 2015 : Bergambar Paling Complete

Aku mengenal Kirani sebenarnya melalui no. telp di phonebook HP temanku. Waktu itu, aku hanya sekedar iseng mengecek nomor-nomor cewek yang ada di situ. Dan, voila! Kulihat nama KIRANI. Ah, pertama kali tentu saja aku tidak berharap banyak. Siapa tahu toh tampangnya kayak kuntilanak, hueheuheuhe.. tapi suatu hari, tapatnya tanggal 9 Desember 2000, karena nganggur abis, di samping pingin merasakan ‘fresh meat’, kucoba menghubungi nomer telponnya.

“Hallo.”
Lah kok suara bapak-bapak?
“Selamat malam, bisa dengan Kirani, Pak?” sahutku dengan nada sesopan mungkin.
“Dari siapa?” jawab suara di seberang.
“Dari Ray, Pak.”
Dan bapak itu memintaku menunggu.
“Halo?”
Eh merdu juga suara si ‘neng’ ini. Dan karena ia di rumah, padahal ini malam minggu, berarti..
“Halo? Kirani?” tanyaku dengan suara dimaniskan.
“Siapa ini?” gadis itu bertanya.
“Ray.” Jawabku singkat.

Sistemnya begini, kita tidak bisa membuat cewek tertarik pada konversasi kita hanya dengan menggunakan interogasi lapuk seperti ‘rumahnya di mana’, ‘kuliahnya di mana’,’udah punya pacar belum’. Namun kita pasti bisa menarik perhatian seorang cewek apabila kita menyerbunya dengan sebuah cerita atau pertanyaan spesifik di luar identitasnya. Dan itulah yang kulakukan, tanpa memberinya kesempatan untuk menanyakan identitasku.

“Ah, cuman Ray saja.” jawabku, dan dengan cepat kulanjutkan, “Aku pingin curhat..” dan membiarkannya bingung dan merasa lucu sendiri, akhirnya (90% cewek selalu begini) ia berkata, “Oke deh, curhat apa?”
Masuk, kan? Kalau dia tidak bilang begitu, tinggal saja. Cewek seperti itu takkan bisa masuk perangkap.. hehehehe.
“Begini, Rani..” dan akupun mengarang cerita tentang betapa cintaku dikhianati seorang gadis yang sudah kukasihi sekian tahun lamanya, betapa hatiku sedih membayangkan seluruh pengorbananku sia-sia dan sebagainya (pokoknya yang sedih-sedih dan semua salah si cewek).
“..begitu.” aku mengakhiri ceritaku, “Bagaimana menurutmu?”
“Gimana, yaa..” suaranya terdengar ragu, “Menurutku sih, yang salah ceweknya..”
Sampai di sini aku menarik nafas lega, jadi aku sudah berhasil menarik simpatinya atas penderitaanku. Dan kami berbincang-bincang cukup lama mengenai masalah itu sampai akhirnya ia kembali menanyakan, “Ray siapa sih? Tahu nomer telponku dari mana?” Namun tentu saja dengan nada yang lebih akrab. Oh, satu hal yang selalu kupegang, jangan pernah terlalu banyak cerita mengenai diri sendiri, karena mendengar cerita lawan bicara dengan baik akan memberikan kesan yang baik pula, cerita mengenai diri sendiri justru akan bernuansa membosankan. Jadi kujawab apa adanya dan kuajukan pertanyaan universal yang membuatnya banyak omong kepadaku, sampai akhirnya ia bertanya sendiri, “Dih, aku cerewet yah?” Oh, tentu tidak. Ceritamu sangat menarik, walaupun aku ngantuk mendengarnya, dan rokokku hampir habis. Hehehehe.

Jadi aku berhasil mendapatkan alamatnya, cukup, jangan mendesak lebih lanjut, kukatakan aku akan menelponnya besok, ia setuju, dan tanpa menunggu lebih lama, aku langsung menuju ke jl. Gubeng Airlangga xx no. xx. Tidak mampir, aku hanya melihat dan melewatinya saja. Santai, tak perlu terburu-buru. Dan daripada nganggur, aku langsung berangkat ke kos-kosan te-te-em (teman tapi mesra) ku di Barata Jaya xx. Mengajaknya keluar jalan-jalan dan membujuknya hingga dia mau menghisap penisku di dalam mobil.

Keesokan harinya, tepat pukul tujuh malam, sesuai janji kemarin, aku melancarkan serangan berikutnya. Kali ini kuawali dengan bercerita tentang sebuah tabrakan maut yang entah di mana (aku lupa, soalnya aku hanya mengarang saja, hehehe), yang membuatnya sangat tertarik, lalu menarik simpatinya dengan pengalamanku dengan mantan kekasihku, si narkoba, dan membahas topik permasalahan kemarin, sehingga aku berhasil berbicara dengannya kurang lebih satu jam setengah. Seperti biasa pula, cewek akan merasa akrab kalau kita bisa membuatnya tertawa, senang, dan banyak omong. Sehingga..

“Rani, aku pingin tahu wajahmu loh.” kataku tiba-tiba.
“Kapan? Sekarang? Udah malam lagi.” kudengar Rani berkata di seberang. Jadi sudah boleh, kan.
“Besok, jam lima sore.”
Jangan membuat langkah ragu, dan pilih waktu yang tak membuatnya curiga.
“Okeh, nggak pa-pa. Kutunggu.”
Pembicaraan yang lama akan membuat seseorang lupa ketika berjanji, sehingga Rani lupa bahwa besok masih puasa, jadi aku bisa menawarkan berbuka puasa bersama setibanya di kosnya. Lumayan cerdik? Tentu saja. Oh, beberapa hari ini kukonsentrasikan energiku untuk mengejarnya, jadi sejenak aku mengesampingkan tuntutan nafsuku, paling tidak sampai aku mendapatkan Rani.

Semuanya berjalan lancar-lancar saja. Jangan pernah menunjukkan perubahan dari gaya bicara di telpon dengan saat bertemu, seburuk apapun kemungkinan yang akan terjadi. Dan ternyata, wow, sangat jauh dari buruk. Heran juga kenapa temanku bisa dapat no. telpon si Rani. Anaknya cantik, kulitnya putih bersih, rambutnya bergelombang mengingatkanku kepada Bella Saphira, hanya dadanya sedikit kecil untuk tipeku, selebihnya oke-oke saja, bahkan sangat oke. Kuusahakan membuat ia tertawa terus, dengan mengarang cerita-cerita konyol dan memainkan raut wajahku. Matanya berbinar-binar, sebagai pernyataan keakrabannya denganku. Dan ketika aku mengingatkannya pada waktu buka puasa, setelah menunggunya shalat (aku shalat darurat di mobil, hehehe), kamipun meluncur mencari tempat makan. Oh, tentu saja kuusahakan mencari tempat kelas menengah yang menimbulkan kesan atraktif, seperti Wapo Airlangga, misalnya.

Selama perjalanan, aku agaknya berhasil membuatnya terpesona dengan sikap gentle-ku. Ia tersenyum manis saat kuberikan sebatang Toblerone (yang sudah kusiapkan sebelumnya), dan mengucapkan terima kasih saat kubukakan pintu mobil untuknya. Dan ketika aku menanyakan kapan ketemu lagi (bukan ‘boleh ketemu lagi?’), ia langsung mengatakan, “Jumat aku kosong.” Dan lihat, semuanya sangat perfect!

Hari Jumat aku mengajaknya jalan, dengan terlebih dahulu memberikan alasan bahwa aku paling bosan duduk terus, dan dengan keakraban yang sudah terjalin, alangkah mudahnya mengajaknya keluar. Hari itu aku mengajaknya ke Pizza Hut di Plasa Tunjungan untuk sekedar minum dan makan salad, karena kami sudah berbuka puasa sendiri-sendiri sebelum aku ke kosnya. Kali ini perbincangan kami seputar tipe cewek idamanku, dan tipe cowok idamannya. Dan tentu saja, dengan menjadi pendengar yang baik, aku bisa mencocokkan tipe cewek idamanku dengan sifat-sifatnya yang sudah kukira-kira dari cerita-ceritaya selama beberapa hari yang lalu. Dan aku tahu, tipe cowok idamannya pastilah sudah kupenuhi semua, kecuali studi tentu saja, soalnya aku paling malas kuliah. Aku tahu, kemungkinan untuk me’nembak’nya saat itu masih 80% berhasil. Jadi kuputuskan untuk menahan sabar. Aku hanya memancing dengan kata-kata, “Enak yah, punya cewek kaya kamu.” Dan itu bisa membuatnya tersanjung, membubung tinggi ke awang-awang.. dan.. brukk? Oh, itu nanti saja.

Sabtu besoknya, nah ini yang seru. Pukul sembilan malam, aku menelponnya tiba-tiba, yang tentu saja membuatnya bertanya-tanya. Dan kubilang, ada hal penting yang membuatku harus ke sana sekarang juga. Karena itu ‘hal penting’ akhirnya ia bersedia menemuiku. Hohoho.. sesampainya di kosnya, aku langsung berlutut, tanpa mempedulikan teman-temannya yang lagi nonton TV di ruang tamu. Memegang tangannya dan memintanya menjadi pacarku. Hehehe, wajahnya tersipu, dan aku tahu dalam keadaan begini, dilihat oleh teman-temannya, hanya 1% kemungkinanku untuk ditolak. Dan begitulah, ia ikut berlutut dan menganggukkan kepalanya, diiringi suit-suit teman-temannya yang menyaksikan kami. Dengan luapan kegembiraanku (berhasil! berhasil!) kupeluk pinggangnya yang ramping dan kuangkat tinggi-tinggi, membuatnya menjerit-jerit kecil dan teman-temannya tertawa. Aku, langsung pulang, membiarkannya larut dalam kejadian yang mungkin baginya sangat luar biasa, hahaha.. jahatnya aku.

Minggu besoknya, kami berdua menghabiskan waktu di Dunkin’s Donuts, sambil bercerita ‘ngalor-ngidul’. Oh,

Rani yang lugu. Tarkadang terselip rasa menyesal.. masa? Hohoho..
Hari Selasa, minggu lalu, aku berhasil mencium bibirnya, untuk hal ini, aku selalu menjaga reputasiku yaitu dengan tanpa harus mengajukan pertanyaan bodoh seperti “boleh kucium bibirmu?”. Kalau pingin cium, ya cium saja. Itu prinsipku, buat apa tanya?

Jumat kemarin, aku mengajaknya shalat tarawih. Setelah itu, aku mengajaknya berputar-putar di jalanan Surabaya, sambil memeluk dan menikmati lengan kiriku yang tertekan ‘susu’-nya. Dan sampailah kami di saat setan lewat, dimana kami diam menikmati ‘kebersamaan’ kami.
Nah, saat itulah kubisikkan di telinganya, “Rin, ke rumahku yuk.”
Rina hanya menggelendot manja di pelukanku.

Ah ya, aku tinggal di Surabaya dengan mengontrak sebuah rumah yang lumayan di daerah Rungkut Harapan. Aku tinggal bersama dua orang temanku. Yang tentu saja sudah kusuruh ngacir ketika aku berhenti untuk mengisi bensin.
Lalu..

Rani tidak meronta ketika sambil berdiri kupeluk dan kulumat bibirnya. Aku tidak pernah menutup mataku kalau sedang berciuman, hal yang bodoh, karena melihat matanya yang terpejam dan hidungnya yang kembang-kempis merupakan sebuah kenikmatan tersendiri bagiku.”Ahh..” kudengar nafasnya yang mendesah saat kupegang dan kuremas payudaranya dari lapisan bajunya, “Oohh.. hh..” kurasakan nafasku juga sedikit memburu, kumasukkan tanganku ke dalam bajunya, meraba raba cup BH-nya, menikmati kekenyalan ‘bemper’nya. Kubiarkan saja tangannya tergantung di sisi-sisi tubuhnya, lagipula, Rani (sesuai pengakuannya) kan masih hijau dalam berpacaran.. hehehe.. bingung kali dia harus ditaruh di mana tangannya, tidak seperti Eci yang pasti sudah langsung merogoh celanaku.

“Mmmhh..” kulumat bibirnya yang terbuka, dan kutekan pantatnya dengan tangan kananku sehingga menekan penisku yang mulai ‘siap grak’. “Hhh..” hembusan nafasnya terasa mulai cepat.. dengan tetap memeluknya (dan tanganku masih meremas payudaranya), kubimbing dia memasuki kamarku. Toh nggak ada orang, jadi kubiarkan pintu kamar terbuka. Kududukkan dia di tepi ranjangku, sip. Kuangkat kakinya dan kujatuhkan kepalanya sehingga ia berada dalam posisi terlentang, sementara aku berjongkok di sebelah ranjang. Kulumat lagi bibirnya, sementara tangan kananku mengangkat bajunya hingga BH-nya menyembul keluar, dan menyelipkan tanganku di BH-nya, merasakan putingnya yang mulai mengeras di ujung jari-jariku.

“Ahh.. uhh..” Rani mulai mendengus-dengus menikmati sentuhanku. Tanpa pikir panjang, langsung kuraih kancing celananya dan menarik reitsletingnya, ehk, tangannya memegangi tanganku, matanya mendadak terbuka.. ups.. “Ssshh.. kamu percaya kan sama aku?” bisikku di bibirnya. Dan kulumat bibirnya sebelum ia sempat menjawab apapun. Kurasakan pegangannya pada tanganku melemas, matanya mulai terpejam lagi. Jadi kuteruskan saja. Kumasukkan tanganku di lipatan celana dalamnya yang berwarna krem, merasakan bulu-bulu vaginanya yang lebat, memijat-mijat permukaan vaginanya, merasakan tanganku basah oleh ‘cairan’nya. “Aahh.. hh.. mm..” kudengar nafasnya yang mendesah-desah dan matanya berkerut-kerut saat kujepit labia mayoranya dengan jari-jariku, memainkannya, memijat-mijatnya, dan kepalanya tertarik ke belakang saat jari tengahku menemukan kelenjar vaginanya dan menekan-nekan serta menggosok kelenjar tersebut.Akupun tenggelam dalam kenikmatanku sendiri, ‘adik’ku sudah tegang sekali, jadi akupun bangkit berdiri, melihat matanya yang masih terpejam dan bibirnya yang tergigit.

“Ray.. hh..” kudengar ia mengeluh sambil memandangiku saat kutarik celananya berikut celana dalamnya. Bulu-bulu vaginanya terlihat lebat dengan celah yang mengundang, bibir vaginanya tampak memerah, mungkin akibat gesekan dan pijatan jariku tadi. Dan tanpa menunggu reaksinya lebih lanjut, kumasukkan kepalaku ke dalam lipatan pahanya dan menjilat penuh nafsu, “Aahhkk.. nngghh..” kudengar ia mengeluh, badannya bergerak-gerak, pahanya menjepit kepalaku saat kugerakkan lidahku menjilat-jilat kelenjar vaginanya. Kunikmati rasa anyir yang memasuki mulutku, kuangkat tanganku, meraih kedua buah dadanya sekaligus, dan menekan-nekan memijat-mijat, membuatnya menjambak-jambak rambutku, pantatnya mulai terangkat dan bergerak liar.

Kutinggalkan vaginanya, dan bangkit berdiri, lalu melepas bajuku dan celanaku. Oh.. Rani rupanya lebih memilih untuk tidak melihatku telanjang. Ya sudah, pikirku. Kubuka pahanya dan kutempelkan batang penisku ke atas vaginanya. Mmmhh.. kunikmati benda yang empuk itu menekan penisku. Kubiarkan saja. Kuciumi bibirnya dan kuangkat punggungnya, melepaskan kaitan BH-nya, dan mengangkat bajunya melewati kepala dan tangannya, sementara Rani hanya pasrah saja, sambil sesekali mengeluh nikmat. “Ahh..” kuhembuskan nafasku penuh kenikmatan saat kujatuhkan tubuhku menempel ke tubuhnya yang telanjang. Kugerak-gerakkan pinggulku, mambuat penisku menekan dan menggesek kemaluannya. Kuciumi matanya, hidungnya, bibirnya, dagunya, menelusuri lehernya, ke dadanya, kuremas payudaranya dan kuhisap putingnya yang berwarna coklat muda secara bergantian.

“Ray.. ahh..” kudengar Rani menyebut-nyebut namaku penuh kenikmatan, kutekan penisku lebih kuat, menggesekkannya menelusuri celah vaginanya, licin, terkadang kutarik penisku agak jauh turun, dan menekan maju, sehingga menekan lubang vaginanya dan menyibakkan bibir-bibirnya ke samping. “Ahh.. kk.. hh.. aahh..” nafasku memburu, dadanya terasa hangat di dadaku, kuciumi lagi bibirnya yang terbuka terengah-engah, kuangkat sedikit dadaku, membiarkan ujung-ujung putingnya menyapu kulitku, kupegang pantatnya dengan tanganku dan kutekan lagi penisku. “Rani.. uhh..” aku mulai terbawa nafsuku sendiri.

Kutarik lagi penisku, dan kali ini menekannya agak kuat, dan (aku sendiri kaget) Rani menjerit kesakitan saat ujung penisku mendadak masuk persis di lubang vaginanya.
“Ray.. jangan..”
bangsat.. kepalang tanggung.
“Rani.. please..” desahku, ujung penisku masih menancap sedikit di ujung lubangnya yang sempit.
“Ray.. jangan, Ray..”
Shit.. kutekan lebih dalam.. Rani menjerit kecil, “Aaachkk.. nngghh..” kulihat air mata menetes di pipinya. Shit.. shit.. kugigit lehernya dan.. shit.. kutekan sekali lagi lebih dalam.
“Ray.. hhkk..”
Kutarik.. kutekan lagi.
“Rani.. uhh..”
Ahhkhkkh.. dan cepat-cepat kutarik keluar sebelum spermaku memasuki vaginanya. Kulepaskan gigitanku, merasakan penisku yang menempel di sprei ketika kuturunkan pantatku. Keringat membasahi tubuhku.
v”Rani ..?” kucoba memanggil namanya, “Rani..??”
“Rani..!!” kuangkat tubuhku, dan kulihat mukanya yang memerah. Buliran air mata tampak jatuh dari ujung matanya, Rani menggigit bibir bawahnya, matanya terpejam dan alisnya berkerut, hidungnya kembang-kempis. Shit.. kulirik ke bawah dan alangkah terkejutnya aku melihat setitik gumpalan darah kehitaman menodai ujung penisku yang mulai mengecil.

“Rani.. sakit ya?” tanyaku sambil kuturunkan tanganku menyentuh celah vaginanya, menggosok-gosok sebentar. Kulihat mata Rani masih terpejam dan air matanya masih keluar, bibirnya bergetar. Kugosok lagi celah vaginanya dengan gerakan memijat dan kugosokkan di kulit pantatku.
“Rani.. sori yah.. sakit?” terus kuulang-ulang pertanyaan itu sambil tetap menggosok-gosok, akhirnya kulihat tangannya terangkat menutupi matanya, dan Rani mengangguk perlahan.
“Uuuh.. sayang..” kukecup manja bibirnya.
“Kusayang, yah?” tanyaku pelan dan dia mengangguk. Kuturunkan kepalaku ke perutnya, terus turun sehingga aku dapat melihat dengan jelas kondisi vaginanya. Wah, lumayan hancur.

Kuperhatikan dengan seksama, memastikan tak ada noda yang menempel, kubelai noda-noda yang tersisa dengan tanganku, membaurkannya dengan air liurku, dan menggosokkannya di pantatku sambil berkata, “Disayang, yaa.. cup cup..” Sebentar-sebentar kutekan permukaan vaginanya, memastikam cairan itu tidak keluar lagi. Setelah yakin semuanya bersih. Kutarik tubuhku ke sampingnya, kupeluk Rani dengan mesra, dan kubisikkan di telinganya,
“Rani.. kamu tahu apa yang membuatku senang saat ini?”
Rani menggel

eng lemah, tangannya masih menutupi matanya.
“Hihihi.. bener mau tahu?”
Rani diam saja.. bahunya masih bergerak-gerak.
“Ngga sampai bobol kok.. tuh lihat saja.. masih bersih..”
Dan Rani mengangkat tangannya, tertawa sambil menangis dan memelukku.
“Kan aku sudah bilang tadi.. percaya dong sama Ray,” ucapku setengah berbisik, dan kukecup keningnya. Ahh.. Rani.

Uwaahh.. aku mungkin harus bersyukur entah pada setan mana soalnya spreiku tak sampai ternoda, bisa cialat deh kalau Rani melihat ada noda di situ. Dan.. satu lagi nama perawan masuk ke buku harianku.

kenapa bisa semudah itu Rani bisa diajak bercinta, oh, Rani bukan cewek gampangan. Tapi yang terpenting, carilah cewek yang di bawah kelas kamu, lugu, agak jauh lebih muda, dan berikan dia pesona dan sebuah keoercayaan, then.. see now?

Hmm, sampai sekarang aku masih berhubungan dengannya, sambil mencari-cari cara bagaimana untuk meninggalkannya. Beberapa teman cewekku menawarkan untuk membantu, tapi sepertinya aku mempunyai cara sendiri, mungkin setelah tahun baru. hehehehe.. kita lihat saja, oke. Tunggu saja.

TAMAT

Di dalam Grand Civic

Amber Heard (21).amy memek basah abg_WM

Amber Heard (26).ririn marinka bugil_WM

Amber Heard (33).Arcane Legends v1.5.0 APK_WM

Amber Heard (38)_WM

Amber Tamblyn.poto telanjang preti zinta_WM

Aku mengenalnya tanpa sengaja, waktu itu hujan deras mengguyur Jakarta. Kukendarai mobilku hati-hati, karena memang pandangan amat terbatas. Sebuah metro mini mendadak memotong haluan, aku benar-benar kaget, secara reflek kuinjak rem dan tangan kiri mengubah persneling ke gigi netral sambil membanting stir ke kiri, nyaris menghantam trotoar.

Sambil bersungut kulihat metro mini yang sudah demikian penuh mengambil penumpang, aku hanya tertegun memperhatikannya. Saat hendak menjalankan mobil, perneling masuk gigi satu, kulihatseorang gadis melambaikan tangan, segera kembali rem kuinjak, gadis berpakaian putih-putih itu langsung masuk ke mobil.
“Numpang ya mas..?” katanya.
Aku tersenyum dan mengangguk, “Kehujanan..?” tanyaku sekenanya.

Akhirnya kami berkenalan, “Nama saya Putri..” ia menyebut namanya sambil kami berjabat tangan.
“Saya Harnoto..” aku pun memperkenalkan diri.
Setelah berbasa-basi sana-sini sambil menanyakan tempat tinggal dan sebagainya, ternyata diatinggal di sekitar Kranji. Sepanjang jalan kulirik gadis itu yang ternyata masih kelas tiga SMA, tubuhnya yang terbungkus baju basah agak menggigil, blouse-nya melekat memperlihatkan bra dan isinya yang ukurannya lumayan.

Sampai di Kranji, Putri turun dan melambaikan tangannya. Aku pun menggenjot pedal gas tanpa pernah memikirkannya lagi. Delapan hari setalah pertemuan itu, aku tengah berbelanja kebutuhan anak-anakku, susu, pasta gigi, sabun, dan sebagainya, maklumlah istriku telah meninggal setahun lalu karena penyakit. Kini aku adalah bapak sekaligus ibu bagi ketiga anakku yang masih kecil-kecil. Yang tertua baru kelas 1 SD.

Saat antri di kasir, tiba-tiba terdengat suara ringan memanggil namaku, “Mas Harnoto..”
Aku menoleh dan tersenyum, lupa-lupa ingat pada seorang cewek dengan t-shirt dan jeans-nya. “Aku Putri.., lupa ya..?”
Sambil berusaha keras mengingat, aku masih tersenyum, akhirnya aku ingat, ini anak SMA yangkehujanan seminggu lalu.

Singkat cerita kami kembali bersamaan, kali ini Putri lebih banyak ngobrol tentang berbagai hal, aku hanya menjadi pendengar setia.
Saat mendekati rumahnya, Putri mempersilakan mampir, tapi aku menggeleng, “Lain kali..,” ujarku basa-basi.
“Mas.. lusa aku pesta perpisahan sekolah, boleh dong Mas anterin..?” pandangannya begitu memohon.
Akhirnya aku mengiyakan.

Sore sekitar pukul 18:30, aku menunggu Putri di tempat yang dijanjikan, karena jalan ke rumahnya tidak mungkin dilalui mobil. Aku berpakaian sepantasnya dan Putri mengenakan gaun malam ungu, tampak begitu dewasa. Belahan lehernya yang agak dalam membuat dua bukit kembarnya tersembul apabila dia salah posisi. Diam-diam jantungku berdegup melihat semua itu. Pesta perpisahan berlagsung meriah, meski aku kurang bisa menimati, tapi aku duduk bertahan sampai selesai.

Sekitar pukur 23:00, acara selesai. Putri mengajakku pulang.
“Acaranya menarik nggak..?” tanya Putri lincah.
Aku hanya tersenyum menatapnya.
“Anak-anak nggak apa-apa ditinggal, maaf ya ngrepotin..” kembali Putri berkata lincah, aku masih tersenyum.
“Mas, jalan-jalan dulu yuk..!” ajak putri.
“Udah malem, mau kemana..?” aku terus-terang jadi bingung.
“Muter-muter aja..!” pintanya lagi, “Sambil ngobrol..”
Kupikir, daripada sumpek, kuiyakan ajakannya.

Kuarahkan mobil menuju jalan tol Jakarta-Cikampek.
Begitu melewati pintu gerbang, “Ke Purwakarta aja mas..!” Putri memutuskan.
Aku mengangguk. Kami berbagi cerita tentang kehidupan kami sehari-hari.
“Berat ya beban mas, ditinggali tiga anak.” ujarnya pelan, meyakinkan.
Aku hanya menarik nafas mengingat istri tercinta yang telah tiada. Putri memilih-milih CD dan akhirnya memuttar koleksi lagu-lagu kenangan Rafika Duri.

Kira-kira mendekati Cibitung, putri merebahkan kepalanya ke pundakku, kurasakan kelembutan rambutnya yang lebat. Putri memiliki paduan badan yang seimbang, dengan tinggi 165 cm dan berat 50 kg, sungguh ideal, bibirnya agak tebal dan bentuknya melengkung ke bawah. Kurasakan aroma keharuman tubuhnya. Entah darimana mulanya, tiba-tiba tangan kriku telah merengkuh pundaknya. Kubelai pipinya yang halus, sementara tangan kanan tetap memegang stir. Putri tersenyum, dalam keremangan nampak begitu indah tatapan sendu matanya. Putri semakin dalam membenamkan kepalanya ke pundakku, tangannya tersandar di paha kiriku.

Setelah setahun lebih tidak berdekatan dengan wanita, gelora dadaku tidak lagi tertahankan, jantungku berdegup amat keras tidak beraturan dan celanaku semakin terasa sesak. Putri kembali tersenyum.
Tanpa kuduga, tiba-tiba Putri mengecup pipiku, “Aku mengagumi mas.. sejak pertama ketemu.” katanya lirih, amat dekat di telingaku, sehingga dengus nafasnya begitu dekat di pipiku.
Batinku semakin tidak menentu, kembali aku dikejutkan oleh gesekan lembut tangan Putri tepat di alat vitalku yang terbungkus rapat.
Aku kaget saat Putri tertawa kecil, “Udah kelamaan ya..?”

Dia terus mengelus-elus alat vitalku yang kian mengeras. Tangan kiriku tiba-tiba punya keberanian untuk menyentuh tonjolan di dada kiri Putri, bra yang keras membuatku penasaran.
“Sebetantar..” kata Putri.
Dia merapikan duduknya, menyondongkan tubuhnya ke depan dan tangannya bergerak ke belakang. Melihat gerakan ini aku belum mengerti apa maksudnya. Saat dia melepas bra-nya dan melempar ke jok belakang, barulah aku memahami semuanya. Tanpa tunggu lebih lama lagi, aku langsung merengkuh pundaknya dan tanganku menyelusup ke dalam gaun ungunya, hatiku bergetar saat menyentuh tonjolan daging empuk di dada Putri. Kuremas pelan-pelan sambil sesekali memelintir puting yang kecil dan lembut.

Aku terkaget-kaget saat tiba-tiba Putri melepaskan ikat pinggangku, melemparnya ke jok belakang, menyingkap kemejaku dan kemudian membuka resliting celanaku. Mobil kupacu pelan dan kuarahkan ke lajur kiri, jantungku terus berdegup. Apalagi saat tangan lembut Putri menyerobot batang vitalku dan mengeluarkannya, tangan kirinya membimbing tangan kiriku agar terus ke bawah. Dengan segala ketrampilan, jemariku menyentuh bulu-bulu lebut dibalik CD Putri, mengelusnya sambil menahan nafas. Putri menggelinjang kegelian, tangan kanannya terus meremas halus batang vitalku. Mendadak sebuah gerakan tidak terduga dilakukan Putri, kepalanya menuju ke arah batang vitalku, aku kaget, kugeser tempat duduk, dan kustel agak merebah sandarankursiku, sambil terus menyetir, kuatur agar kepala Putri leluasa di pangkuanku. Aku tidak mau kepalanya yang indah tersenggol stir.

Pelan-pelan Putri mengecup, melumat dan menyedot batang vitalku, sambil kaki tetap menginjak pedal gas, pantatku bergerak seirama sedotan mulut Putri, tangan kiriku berpindah-pindah antarapayudara yang lembut namun kenyal dan selipan di kedua pahanya. Mobil masil meluncur menuju arah Purwakarta, makin lama sedotan Putri semakin liar, bajuku berantakan, gaun Putri juga tersingkap tidak karuan. Putri terus melumat, menjilat dan menyedot batang vitalku yang kian mengeras, desahan nafasnya dan degup jantungku berpacu bak kuda balap. Putri terus menyedot, sementara jemari kiriku menari-nari di selangkangan Putri. Putri mendesah, seiring mulaibasahnya selangkangan, batang vitalku pun mengeras. Aku terus memelintir klitoris, dan jemariku menyusup semakin dalam.

Putri merapatkan kedua kakinya, mulutnya terus mengulum dan menyedot. Tiba-tiba Putri mendesah dan menggigit batang vitalku, aku kaget.
“Maaf..!” ujarnya.
Rupanya dia telah orgasme. Kembali Putri mengulum batang vitalku, pinggangku pun bergerak turunnaik, mengikuti sedotan Putri. Kira-kira melewati Karawang barat, aku merasakan desakan hebat di batang vitalku, segera kutarik kepala Putri, kulumat bibirnya, sambil tetap berusaha mendapatkan pandangan arah depan, agar tidak menabrak.

Jemari lembut Putri kini mengambil alih tugas mulutnya, mengocok batang kemaluanku yang telah licin. Pantatku naik karena desakan dari dalam, isyarat ini ditangkap putri dengan respon merapatkan dadanya dan gerak tangan kanannya semakin keras berirama, namun tetap lembut. Tak lama kemudian menyemburlah cairan bahan manusia dari batang vitalku. Putri menggenggam batang vitalku erat-erat agar tidak bertaburan kemana-mana, dan aku pun lunglai. Putri tersenyum, memandangku, menyambar tissue dan mulai mengelap batang vitalku yang basah, juga perutku dantangannya.

Putri terus sibuk mengelap dengan tissue seraya tersenyum padaku.
“Terima kasih.. Putri..,” desahku sambil mengecup keningnya.
Putri tersenyum, mengecup batang kemaluanku sekali dan membereskan celana serta bajuku. Saat melihat gerbang tol Cikampek, Putri segera membenahi gaunnya dan duduk manis di jok kiri. Keluar pintu gerbang, aku memutar arah untuk masuk gerbang lagi. Putri tersenyum, melihat keheranannya penjaga gerbang tol, aku pun tersenyum sambil berpandangan.

Melewati jalan tol, kembali Putri merebahkan kepalanya ke pundakku. Sejak itu, kami seringmelakukan petualangan kenikmatan sepanjang jalan tol, di atas Grand Civic-ku. Indah sekali.

TAMAT

Di Tengah Hujan Deras 01

Amanda Tapping (40).heidi klum naked_WM

Amber Benson (1).Minions Paradise v7.0.2851 APK_WM

Amber Heard (4).Jurassic World v1.8.18 APK_WM

Amber Heard (9).Nine Muses_WM

Amber Heard (15).Naeun_WM

Cerita ini bermula pada suatu siang saat hujan tengah mengguyur kota Yogyakarta dengan derasnya. Karena kosku jauh dari kampus, maka dengan diantar Rio teman sekampusku, kami berteduh di kos Leo sahabat Rio yang kebetulan kosnya berada tidak jauh dari kampusku.

Untuk mengisi waktu, Rio memutar VCD porno yang ada di kamar Leo dan aku ikut menontonnya karena sebenarnya aku sudah biasa menonton film begituan sebelum bercinta dengan pacarku yang dulu. Makin lama kami bertiga makin hanyut dalam hayalan di tengah lenguhan dan jeritan sang bintang biru di layar kaca.

Ketika adegannya memperlihatkan seorang cewek tengah digarap oleh dua lelaki, aku mulai merasa tidak karuan. Entah mengapa aku selalu sangat terangsang bila melihat adegan-adegan seperti itu, dan kurasa mereka berdua pun demikian karena sesekali mereka mencuri pandang menatapku dengan aneh.

Timbul pikiran dalam kepalaku membayangkan aku lah yang sedang di layar TV menikmati sorga dunia yang tiada tara itu. Kulihat kedua pria di kiri kananku semakin gelisah, dan dengan curi-curi kulihat benda di balik celana mereka mulai menggembung. Aku mulai menebak-nebak ukuran kedua benda itu dalam hatiku dan berharap mereka melakukan sesuatu duluan, sebab aku semakin tidak kuasa menahan gelora birahiku. Kurasakan celanaku mulai basah menyaksikan adegan-adegan panas dan seru itu.

“Kamu pernah ML?” tanya Leo memecah kebisuan.
“Pernah, dulu dengan mantanku. Emangnya kenapa?” jawabku menggoda.
“Nggak pa-pa, cuma nanya. Ada nggak impian kamu yang belum terjadi?”
“Yah.., jujur saja aku suka membayangkan bagaimana rasanya kalo ditiduri oleh dua laki-laki sekaligus seperti dalam film-film yang itu lho.” jawabku setelah ragu sejenak.

“Mau nggak kalo sekarang?” tanya Rio dengan tersenyum menggoda dan aku jadi sangat ingin mencobanya.
“Tergantung.., penis kalian besar atau nggak. Soalnya aku juga pengen merasakan kepuasan yang total. Gimana?” tantangku.
“Nggak usah takut deh, taruhan kamu pasti akan sangat puas, dan aku malahan kuatir kamu nggak bakal kuat ngadepin kita. Lihat nih..!” sambil berdiri Leo membuka celananya sekaligus sampai benda favoritku itu muncul mendadak di depan hidungku.
Gila panjang banget, bahkan lebih panjang dari penis mantanku dulu. Aku hanya dapat menatap takjub. Pasti tidak akan muat deh mulutku mengemut penis sepanjang itu.

Sementara itu Rio rupanya sudah tidak dapat menahan nafsunya. Dia langsung mendekatiku dan meremas payudaraku yang tidak terlalu besar tapi aku yakin pasti memuaskan, karena montok dan indah bentuknya. Aku melenguh pelan menerima serangan mendadak itu. Leo menarik rambutku dan kumengerti sebagai isyarat untuk mulai mengemut ‘adik’-nya itu. Kukecupi ujung penisnya dengan lembut dan mulai menjilati perlahan mulai dari bawah hingga ke ujungnya dengan maksud ingin menggodanya.

Leo mulai mendesah nikmat membuatku semakin bersemangat untuk membuat desahan itu semakin keras.
“Oohh.., yes.., terus Han.., Kamu memang pintar.”
“Ungongg.. umh..” jawabku tidak jelas dengan batang kemaluan sepanjang 20 senti di dalam mulutku.
“Ooh.. kontolmu enak sekali Yang. Uhmp.. sroot.. wow.. aku.. oohh..” aku semakin tidak terkendali menikmati sensasi yang kurasakan.

“Hana, tetekmu indah sekali. Ouu.., pantatmu juga. Kenapa sih kamu nggak pernah cerita kalo kamu punya badan yang sangat menggoda seperti ini?” puji Rio sambil menjilati putingku yang sudah menegang dan agak besar karena sering dihisap oleh pacarku.
Tangannya membelai pantatku dengan lembut dan diselingi dengan remasan dan cubitan gemas yang cukup sakit namun merangsang.

Aku agak terkejut ketika kusadari ternyata Rio telah membuka seluruh pakaianku sehingga aku betul-betul bugil di hadapan mereka berdua. Namun efek melihatku bugil serta kuatnya hisapanku dan frekuensi kocokan pada batang kemaluannya ternyata sangat berpengaruh, sehingga Leo cepat mencapai orgasme dan memuntahkan maninya di dalam mulutku yang langsung kutelan dengan rakusnya. Uuh.., rasanya enak sekali.

“Enaknya.., sini Yang kujilati lagi jangan sampai tercecer.” rengekku sambil menarik lagi penis Leo ke dalam mulutku dan menjilatinya dengan liar.
Tanganku yang kiri mendorong kepala Rio makin rapat dengan dadaku, sementara dadaku sendiri kulambungkan ke arahnya. Aku tidak perduli lagi dianggap apaan, pokoknya aku ingin menikmati surga dunia ini dengan seluruh jiwa ragaku. Di sini saatnya sisi diriku yang lain yang selalu tertutupi oleh predikat mahasiswi teladan boleh muncul tanpa perlu malu.

Rio kemudian mengambil alih tubuhku. Diaturnya sedemikian rupa di atas tempat tidur dengan posisi kaki mengangkang di tepi tempat tidur, sehingga vaginaku yang berwarna pink tersibak dengan jelas di antara bulu-bulu halus dan Rio langsung berlutut di depan selangkanganku. Tangannya membelai daerah pinggul lalu turun, berputar dan berhenti di vaginaku, memainkan klitorisku setelah membuka belahan bibir bawahku setengah kasar.

“Oh ya.. oouu enak.. Hmmph..”
“Cantiknya..”
“Oouu..!” aku menjerit pelan ketika dia mencubit klitku.
Kedua tangannya lalu membuka bibir vaginaku lebih lebar lagi dan kusambut dengan lebih mengangkangkan kakiku agar dia lebih leluasa mempermainkan vaginaku. Kurasakan lidahnya menyentuh bagian dalam vaginaku perlahan, lalu semakin liar membuatku bergerak tidak karuan mengimbangi serangan-serangan Rio.

“Teruss Yang..! Jangan berhenti.., Oh yeah.. enak banget.”
Kugerakkan pinggulku ke kiri dan ke kanan, kadang ke atas menahan rasa geli dan nikmat. Jeritanku mulai mengisi kamar itu mengalahkan jeritan dalam VCD, dan itu tampaknya semakin membakar nafsu kedua lelaki itu.
“Aaww yess..!” seruku ketika Rio menggigit kacang yang sangat sensitif itu.
Kugerakkan tanganku mencari kepalanya dan kuremas rambutnya sambil terus mendorong agar kepalanya tetap berada di vaginaku.

“Leo udah dong istirahatnya, sini kontolmu kuisap lagi..!” pintaku manja.
Leo tersenyum dan mendekatiku, mencium bibirku dengan ganas, kusambut permainan lidahnya dengan bersemangat pula. Lidahnya berputar liar dalam mulutku beradu dengan lidahku, dan kami terus mencoba menghisap lidah satu sama lain, nikmat sekali! Puas bermain di mulutku, dia meneruskannya di belakang telingaku, menghisap setiap senti leherku hingga turun ke dadaku menyentuh payudaraku yang putih dan menegang.

Dengan rakus dihisapnya payudaraku seakan ingin dimasukkannya semua ke dalam mulutnya, sementara tangannya meremas puting kiriku dan memutar-mutarnya. Aku melenguh habis-habisan diserang dari dua sudut sumber birahiku. Tapi aku tidak menyerah begitu saja setiap bagian tubuh Leo yang berhasil kupegang segera pula kubalas menghisapnya, tanganku yang satu meremas rambut Rio, sedangkan yang lain mencari dan membelai bagian tubuh Leo.

Melihat serangan Leo, Rio pun tidak mau kalah membuatku menjerit nikmat dengan mejilati lubang pantatku. Aku agak terkejut karena baru sekali ini merasakannya, namun menikmatinya juga. Entah apalagi yang dilakukannya, aku tidak perduli lagi walaupun sakit yang penting itu dapat membuatku semakin nikmat.

“Udah Sayang.., oh.. masukkan sekarang, aku dah nggak tahan lagi. Please..!” aku benar-benar tidak sabaran lagi dipenuhi oleh nafsu untuk segera merasakan nikmatnya vaginaku dimasukki batang kemaluan mereka.
“Ayo dong..! Oouhh.. udah stop, memekku udah gatal nih..!”
“Sabar dong Han, baru juga segini. Bentar lagi deh, aku masih mo mainin memekmu. Aku suka sih baunya, harum.. nggak seperti bau memek pacar-pacarku dulu.”
“Jelas dong. Kan punyaku kurawat tiap hari pake pembersih khusus wanita, so pasti harum dong.”
“Cepeten dong friend, aku kan juga mau ngerasain memeknya. Masa dari tadi aku kebagian mulutnya aja?” protes Leo. Aku tersenyum.

“Jangan kuatir nanti pasti kebagian. Pokoknya terserah deh kalian mo ngapa-ngapain aku hari ini, I’m yours..!” hiburku di sela-sela desahan.
“Sayang ayo kontolmu..!” kumiringkan badanku meraih penis Leo di sampingku dan segera mengemutnya bagaikan es krim.
Kuvariasikan hisapanku dengan jilatan pada buah zakarnya hingga batang sampai ujung penisnya dengan gigitan kadang pelan kadang keras yang pasti membuatnya ‘nggak ku-ku’.

Taktikku itu berhasil. Leo langsung ‘blingsatan’ tidak karuan setengah mendesah setengah memaki dan menjambak rambutku, meremas payudaraku keras-keras hingga memerah. Aku mengeluarkan jeritan tertahan berhubung batang kemaluannya tengah kuhisap.
“Huumph.. enaknya. Aku ketagihan nih ama kontolmu..!” godaku sambil menatap wajahnya.
Leo menjawab dengan menjambak rambutku lebih keras dan menyentakkan penisnya ke dalam mulutku sampai aku tersedak namun dia tidak perduli. Permainannya semakin kasar dengan menggigit leherku dan memaksa hisapanku semakin keras, tapi aku menyukai cara-caranya. Kini tubuh bugilku penuh cairan campuran keringat dan liur mereka.

Rio menggosok batang kemaluannya di daerah vaginaku, dan tiba-tiba dengan sekali sentakan keras dia mendorang penisnya masuk ke vaginaku. Satu menit dibiarkannya di dalam, diam lalu dikeluarkannya lagi, didorongnya lagi lalu dikeluarkan lagi, mula-mula secara perlahan namun kemudian semakin cepat. Kedua kakiku dipakainya untuk berpegangan agar pinggulnya mudah digerakkan.

“Oh yeah.. oh yeah.. oouu terus oh Sayang enak sekali. Ohh.. lebih keras, yeah. Lebih keras lagi, auww sakit..! Enak, nikmat..!” cerocosanku berhenti ketika Leo memasukkan kembali batang kemaluannya ke dalam mulutku dan membuatku sibuk melayaninya.

“Ohh.. Sheet..! Memekmu rapat sekali Han, sakit tapi enak..! Oh yeah..! Ayo.., enakkan..? Oukh.. yeah..!” Rio bergumam tidak karuan, sesekali ditepuknya pinggulku dengan keras, membuatku tersentak kesakitan.

Bosan dengan posisi demikian, Leo mengambil alih vaginaku, dan tanpa basa-basi langsung menusukkannya di lubang kenikmatanku. Saking panjangnya, kupikir liangku tidak akan muat menelan seluruh batang penisnya sampai ke pangkalnya. Aku menjerit keras ketika Leo memaksa penisnya agar masuk sedalam mungkin. Kurasakan kemaluannya menyentuh dinding rahimku. Posisiku kini berubah, bukan tiduran lagi namun agak jongkok, karena Rio telah berbaring di depanku meminta jatah kocokan mulutku yang mungil ini.

Bersambung ke bagian 02

Wedding Service – 1

Amanda Tapping (11).liburan di kampung dapat memek_WM

Amanda Tapping (17).bercinta sama ayuk ipar_WM

Amanda Tapping (22).Sandara_WM

Amanda Tapping (28).kim go eun xxx_WM

Amanda Tapping (34).aoa nude_WM

Waktu itu teman saya mengajak saya menjadi panitia pernikahan salah satu sepupunya disalah satu gedung pertemuan di daerah Tebet. Ketika aku sedang mengambil makanan handphone-ku bergetar.

“Hallo..”

“Hallo Ovi.. Apa kabar? Koq kalau makan nggak ngajak ngajak aku sih.”

“Eehh.. Mbak Amy. Apa kabar?”

“Aku baik. Kamu?”

“Baik.. Mbak dimana sih? Koq tahu aku lagi mau makan?”

“Ada di belakang kamu.”

Aku menoleh dan Mbak Amy melambaikan tangan. Mbak Amy memakai kebaya dan rambutnya yang sebahu dibiarkan tergerai dengan model shaggy.

“Apa kabar Mbak.?” sambil mencium pipinya.

“Aku baik Vi, kamu ngapain disini?” Mbak Amy menggandeng tanganku dan menarik aku kesudut ruangan.

“Sepupu teman kawin, terus aku dimintain tolong jadi panitia. Mbak Amy ngapain disini? sendirian?”

“Undangannya buat suamiku tapi dia lagi ke luar negeri, jadi aku wakilin dia deh. Aku nggak sendirian, kan ada kamu,” sambil tersenyum manis dan menyalakan rokoknya.

“Yee. Naik apa Mbak?”

“Naik mobil dong, masa naik becak.”

“He.. he.. aku juga tahu kalau itu.”

“Kamu pulang sama siapa Vi?”

“Aku pulang sendiri aja, habis makan aku ganti baju terus pulang kali. Capek banget dari siang aku sudah disini.”

“Kamu balik bareng aku aja ya Vi. Nanti kalau sudah selesai ganti baju, aku tunggu di mobil ya.”

Aku mengangguk lalu berganti baju memakai celana pendek, t-shirt dan sepatu kets sementara celana panjang dan lainnya aku letakkan di ranselku. Aku menuju tempat parkir dan masuk ke mobil Mbak Amy. Aku duduk di sebelah kiri, Mbak Amy mengemudikan mobilnya keluar dari gedung. Mbak Amy mengemudikan mobil menuju ke arah rumahnya di bilangan Permata Hijau, dan memasukkan mobilnya langsung ke dalam garasi rumahnya.

“Katanya mau anterin aku pulang, kok aku diculik ke sini sih?”

“Kamu temanin aku ya malem ini, aku bete nih sendirian di rumah”

“Terserah Mbak aja deh.”

“Nah gitu dong, masuk yuk Vi.”

Mbak Amy mengajak aku masuk dan mempersilahkan duduk diruang keluarga. Di ruang itu terdapat sofa besar dan TV berukuran besar lengkap dengan sound systemnya. Mbak Amy memanggil Bi Inah pembantunya dan menyuruhnya untuk membuatkan minum. Aku memang sudah mengenal semua anggota rumah Mbak Amy termasuk supir dan pembantunya, karena mantan pacarku dulu pernah bekerja menjadi asisten pribadi Mbak Amy.

“Makasih ya Bi, apa kabar?”

“Baik Den Ovi, silahkan minum lho.”

“Minum gih, aku ganti baju dulu ya vi.”

“Oke Mbak.”

Aku menyalakan TV dan menonton film sex and the city di Trans TV, Mbak Amy menganti bajunya dengan celana pendek dan kaos lengan dan rambutnya diikat pony tail. Mbak Amy duduk disebelahku dan menyalakan rokok. Aku terus memperhatikan Mbak Amy.

“Kenapa sih kamu koq lihatin aku terus?”

“Mbak cakep sih.”

“Ngerayu nih atau ngeledek?” sambil mencubit pahaku.

“He.. he.. he.. Dua duanya donk.” sambil kupeluk pundaknya.

Mbak Amy menggeser posisi duduknya sehingga tubuhnya bersandar di tubuhku sementara tanganku memeluk pinggangnya dari belakang. Sesekali aku meraba payudaranya dan mencium lehernya. Aku terus mencium leher dan telinganya.

“Sss.. Mmm.. Vi.. Mmm.. Mph.. Mph..” sambil aku terus meraba dan meremas payudaranya.

Mbak Amy mematikan rokok lalu memutar tubuhnya dan aku mencium Bibirnya. Aku dan Mbak Amy berciuman dan saling memainkan lidah. Mbak Amy mulai mengelus penisku dan memasukkan tangannya ke dalam celanaku. Aku membuka bajunya dan meremas remas payudaranya.

“Ouh.. Vi.. Remes tetekku say.. Remes sayang.. Ovi buka celana kamu dong.” sambil tangannya mengocok dan mengelus batang penisku.

“Mmmpphh.. Ssshh.. Ouh.. Ouh.. Mbak aja deh yang buka.”

Mbak Amy kemudian menarik turun celana pendek dan celana dalamku, Mbak Amy menunduk dan menjilati serta menghisap batang penisku yang sudah tegang.

“Aahh.. Mbak.. Isep penisku Mbak.. Ssshh.. Ouh enak banget.. Ouh mmpphh.. Mmpphh.. Yes.. Ouh.. Uh. Aahh..”

Mbak Amy terus menjilati batang penisku dan memainkan lidahnya diseluruh batang penisku juga urat dibalik kepala penisku. Aku membuka baju serta BH dan menarik turun celananya berikut celana dalamnya. Aku meraba vaginanya dan menusukan jariku ke dalam vaginanya.

“Oouuhh.. Vi.. Yes.. terus say. terus. Ouh ouh.. Yess. Yess. Fuck me.. Fuck me.. Cepet say.. Gerakin jari kamu yang cepet.. Yes.. Ouh. Ouh.. Yeess..”

Aku semakin cepat mengocok dan memainkan jariku didalam vaginanya, tak lama kemudian tanganku terasa basah dan vagina Mbak Amy terasa menjepit dan tangannya mencengkeram pahaku serta Mbak Amy mencium dan menggigit Bibirku.

“Mmmpphh.. Mmpphh.. Yyyeess.. Aku keluar sayangg.. Yyeess” Mbak Amy setengah menjerit tertahan.

Mbak Amy melanjutkan aksi mulutnya di penisku yang sempat tertunda sebentar, tangannya terus mengocok dan memijat naik turun batang penisku.

“Aaahh.. Mbaakk.. Euh euh.. Yess.. Euh.. Ahh.. Aku mau keluar..” tubuhku menegang dan air maniku tumpah didalam mulut Mbak Amy dan belepotan di tangannya, Mbak Amy terus menjilati dan menghisap sisa sisa air maniku yang masih menetes dari penisku. Aku memeluk Mbak Amy dan mencium Bibirnya lalu kurebahkan Mbak Amy diatas sofa langsung saja aku menjilati vaginanya dan menghisap klitorisnya.

“Oouuhh.. Vi. Yes.. Jilat terus say.. Jilat vaginaku. Aahh. Ouh ouh.. Yes. Masukin vi.. Masukin sayang.. Aku sudah nggak tahan nih..”

Mbak Amy memintaku untuk duduk di sofa, Mbak Amy membuka kakiku dan menjilati batang penisku hingga basah dengan air liurnya. Setelah beberapa saat, Mbak Amy mengangkangi pinggangku dan menuntun masuk penisku menuju vaginanya. Penisku perlahan tapi pasti hilang ditelan vagina Mbak Amy, Mbak Amy menaik turunkan tubuhnya dan sesekali memutar pantatnya dan aku menghisap, meremas remas kedua payudaranya.

“Ouuhh.. Vi.. Enak banget sayang.. Yess.. Yess.. Vi.. Dorong sayang.. Dorong yang kenceng..” desah Mbak Amy setengah menjerit tertahan sewaktu aku mengocok penisku di vaginanya dengan cepat dan keras. Mbak Amy terus memompa tubuhnya naik turun dan sesekali memutar pantatnya, payudaranya bergoyang tak menentu, tubuhnya bertumpu pada tangannya yang mencengkeram pahaku. Rambutnya yang panjang sesekali menggelitik dadaku pada saat Mbak Amy menundukkan kepala dan menggelitik pahaku waktu Mbak Amy menengadahkan kepalanya kebelakang. Aku menggendong Mbak Amy dan merebahkannya diatas karpet dan kupompa tubuhnya dengan cepat.

“Ouhh.. Vii.. Yes yes.. Ouh.. Mmpphh.. Mmpphh.. Yess.. Kenceng sayang yang kenceng say.. Aku sudah mau.. Keluarr..” Mbak Amy mendesah panjang, tubuhnya menegang dan bergetar dan penisku terasa dibasahi oleh cairan kehangatan Mbak Amy. Hal ini membuatku semakin terangsang dan terus memompa tubuh Mbak Amy. Setelah beberapa lama aku berdiri dan menarik Mbak Amy agar berlutut, kukocok penisku dihadapannya sementara Mbak Amy memegang pahaku dan sesekali menjilati terkadang menghisap kepala penisku.

Aku terus mengocok di hadapan wajahnya dan tanpa sengaja aku melihat pintu dapur yang sedikit terbuka dan tampak Bi Inah sedang berdiri dibalik pintu mengintip perbuatanku dengan majikannya. Aku terus mengocok dan memasukan penisku ke mulut Mbak Amy minta dijilat atau dihisap.

“Ouuhh.. Mbaakk.. Yes.. terus Mbak.. Isep terus.. Yess.. Ouh.. Bentar lagi Mbak.. Bentar lagi.. Aku mauu.. ahh..” desahku panjang bersamaan dengan keluarnya airmaniku dan mengenai wajah Mbak Amy serta sebagian menetes ke payudaranya. Mbak Amy menjilat dan menghisap sisa sisa air maniku. Aku dan Mbak Amy berciuman. Kami berdua membereskan pakaian yang berantakan di ruang TV dan menuju kamar. Aku langsung tertidur sambil memeluk Mbak Amy. Esok harinya Mbak Amy membangunkan aku dan berpesan agar aku jangan pulang dulu sebelum Mbak Amy pulang.

“Jangan pulang dulu ya Vi, sebelum aku dateng.”

“Memang Mbak mau kemana?”

“Aku mau ke bank dulu terus mau studio dulu ada yang mau aku urus, kalau mau sarapan minta siapin Bi Inah aja ya.”

Mbak Amy mencium Bibirku dan pergi meninggalkan kamar. Terdengar suara Mbak Amy meminta Bi Inah agar menyiapkan sarapan buatku. Tak lama kemudian terdengar suara mobil Mbak Amy meninggalkan rumah.

Aku bangun dan berjalan keluar kamar dan mencari Bi Inah dan ternyata Bi Inah sedang mandi. Kamar mandi Bi Inah terletak di belakang rumah dan diatasnya terdapat lubang angin yang cukup besar. Aku mengambil kursi dan mengintip Bi Inah yang sedang mandi. Bi Inah umurnya hampir sama dengan Mbak Amy sekitar 39 tahun. Tubuh Bi Inah lebih kurus dibanding dengan majikannya tingginya sekitar 165cm, kulitnya sawo matang, wajahnya biasa tapi manis tipikal orang Jawa Tengah. Aku mengintip melalui lubang angin diatas pintu tampak Bi Inah sedang menyabuni tubuhnya dan meremas remas payudaranya yang berukuran 34 secara bergantian, tampak bulu bulu lebat di vaginanya. Penisku kembali tegang melihat pemandangan itu. Ketika Bi Inah mengambil handuk, aku langsung buru buru masuk ke dalam rumah dan duduk menonton acara TV. Tak lama kemudian Bi Inah masuk dengan rok terusan panjang semata kaki berwarna biru muda memetakan bentuk tubuhnya dan rambutnya yang panjang sebatas pinggang dibiarkan tergerai lepas.

“Eh Den Ovi sudah bangun, mau sarapan Den?”

“Mau dong.. Laper nih, masak apa Bi? Habis mandi ya Bi Inah?” Bi Inah mengangguk, aku berdiri menuju meja makan, sementara penisku yang berdiri tegang tampak jelas tercetak dibalik celana pendekku karena aku memang sengaja tidak mengenakan celana dalam.

“Bibi masak nasi goreng sama telor ceplok setengah mateng nih.”

Aku sengaja berdiri disamping Bi Inah dan melihat makanan apa yang disediakan olehnya sehingga tanpa sengaja penisku menyenggol pinggulnya. Bi Inah hanya diam dan tak bereaksi lalu kusengaja kugesekan penisku di pinggulnya terdengar nafasnya mulai tak beraturan. Lalu aku duduk dan mulai makan. Tak lama kemudian Bi Inah datang membawa minuman.

“Ini minumnya, sama tadi ibu suruh Bibi untuk kasih vitamin ini.” sambil memberikan vitaminnya kepadaku.

“Makasih ya, Bi Inah nanti pijitin aku ya, pegel nih badanku.”

“Baik Den, nanti kalau sudah selesai makan panggil Bibi aja ya.”

“Ehh.. Bibi nggak usah kemana mana, temanin aku ngobrol aja disini, kan nggak enak makan sendirian.”

Aku dan Bi Inah banyak mengobrol, Bi Inah bercerita bahwa suaminya bekerja di perkebunan daerah Sumatra dan pulang hanya dua tahun sekali.

Selesai makan Bi Inah membereskan meja makan dan sekalian membersihkan ruangan. Aku menyalakan TV dan memutar film yang ada di rak dvd yang ada disamping TV. Film yang aku putar tergolong kategori X2 sehingga banyak menampilkan adegan adegan panas yang tidak terlalu vulgar seperti dalam film kategori X3. Aku menonton film sambil berbaring disofa dan penisku yang tegang akibat melihat adegan panas di film mencetak bentuk penisku di celana bicycle pants yang aku pakai. Bi Inah membersihkan karpet diruangan itu sambil sesekali melihat adegan di film dan melirik ke arah penisku. Setelah selesai membersihkan rumah, Bi Inah menanyakan apakah aku jadi dipijat atau tidak. Aku mengangguk mengiyakan.

“Bentar ya Den Ovi, Bibi mau cuci tangan dulu ama ambil cream pijitnya ibu.”

“Ya Bi.. Disini aja sambil nonton TV.”

“Ya Den, disofa saja, Ibu juga kalau dipijit suka disofa koq.”

Bi Inah masuk kekamar Mbak Amy dan mengambil sebotol cream juga selembar sprei untuk melapisi kain sofa dan selembar handuk. Aku membuka bajuku dan Bi Inah mulai memijat punggungku, setelah selesai memijat punggungku Bi Inah mulai memijat kakiku.

“Den Ovi celana pendeknya dibuka aja ya, biar nggak kena cream, soalnya kalau kena cream, susah hilangnya kalau dicuci.”

“Nggak ah. Malu kan.”

“Ndak pa pa koq, kan nanti ditutupin pake handuk.”

“Iya deh.” sambil melepas celana pendekku dan mengenakan handuk yang diberikan oleh Bi Inah, lalu aku langsung kembali tengkurap di sofa.

Bi Inah mulai memijat telapak kedua kakiku. Setelah telapak kaki dan betisku Bi Inah mulai memijat paha kananku dan sesekali jari jarinya menyerempet buah zakarku, selesai dengan yang kanan Bi Inah mulai memijat paha sebelah kiri.

“Balik badan dong Den ovi, sekarang dadanya Bibi pijitin ya.”

Aku membalikkan tubuh terlentang, handuk di pinggangku sedikit terbuka. Bi Inah menggeser tanganku diatas pangkuannya agar dia lebih leluasa memijat dadaku. Bi Inah memijat dadaku sementara aku mengelus elus punggung Bi Inah dan Bi Inah tidak bereaksi hanya tersenyum manis.

“Bi.. Kakiku pijit lagi ya, masih pegel nih.”

“Sebentar ya Den ovi, dikit lagi nih tinggal perutnya.” sambil memijat perutku sesekali tangannya menyenggol penisku yang sudah tegang dari tadi.

Selesai memijat perutku Bi Inah mulai memijat pahaku lagi dan kubiarkan handukku terbuka sehingga memperlihatkan penisku yang sudah tegang. Aku pura pura tidur, kuintip Bi Inah yang sesekali melihat penisku. Selesai dengan kakiku Bi Inah menarik tangan kiriku untuk dipijat, waktu Bi Inah memijat tanganku posisi telapakku persis di depan payudaranya dan dengan sengaja kugerakkan tanganku sehingga menyenggol payudaranya. Demikian juga pada saat Bi Inah memijat tangan kananku.

Kuberanikan meraba payudaranya dan mengelusnya dari luar pakaiannya.

“Den Ovi, jangan dong.” setengah menolak tapi tidak berusaha menyingkirkan tanganku dari payudaranya. Aku terus memberanikan diri meremas remas kedua payudaranya.

“Ssshh.. Den Oovvii.. Mmm..” dia mendesah, aku duduk dan menarik tangannya ke arah penisku. Bi Inah hanya meremas remas penisku.

“Bi Inah, jangan diremes gitu dong kan sakit.”

“Maaf Den, abis Bibi gemes sih.” Bi Inah merubah remasan tangannya menjadi kocokan yang lembut di batang penisku. Aku mencium Bibirnya dan Bi Inah membalas ciumanku, aku mulai meraba pahanya dan mengangkat roknya.

Ke bagian 2

Irene (256) nude pics

Yoona naked fake (173)

Taeyeon naked fake (385)